Bayangkan suatu pagi seorang pengendara datang ke SPBU seperti biasa. Ia mengantre, membuka tutup tangki, lalu meminta petugas mengisi Pertalite. Namun kali ini ada pertanyaan baru “Bapak/Ibu masuk desil berapa?”
Pertanyaan yang selama ini lebih sering
terdengar dalam urusan bantuan sosial, kini berpotensi masuk ke ruang yang
sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: pembelian bahan bakar minyak (BBM)
bersubsidi.
Pemerintah tengah mengkaji pembatasan
pembelian Pertalite bagi masyarakat yang masuk kelompok kesejahteraan desil 9
dan 10. Kelompok ini dipandang sebagai masyarakat dengan tingkat kesejahteraan
relatif tinggi sehingga dinilai tidak semestinya menikmati subsidi BBM.
Namun, penting dicatat, kebijakan tersebut
belum menjadi aturan final. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa
pembatasan masih dalam tahap kajian dan pelaksanaannya menunggu validitas data
sosial-ekonomi. Selama belum ada keputusan, mekanisme pembelian Pertalite masih
berjalan seperti biasa.
Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Karena
yang sedang diperdebatkan bukan sekadar soal siapa yang boleh membeli Pertalite,
melainkan pertanyaan yang lebih besar, siapa sebenarnya yang berhak menerima
subsidi negara?
Subsidi: Hak Semua Orang atau Bantuan bagi
yang Membutuhkan?
Selama bertahun-tahun, subsidi BBM pada
dasarnya melekat pada komoditas. Ketika seseorang membeli BBM bersubsidi, harga
yang dibayarkan sudah mengandung dukungan pemerintah.
Masalahnya, pola seperti ini memiliki
kelemahan. Orang yang
ekonominya pas-pasan mendapatkan subsidi. Tetapi orang yang secara ekonomi
sangat mampu juga bisa mendapatkan subsidi yang sama.
Dengan kata lain, subsidi komoditas tidak
otomatis berarti subsidi tepat sasaran kepada masyarakat miskin. Karena itu,
gagasan pemerintah untuk mengaitkan akses Pertalite dengan kondisi
sosial-ekonomi sebenarnya mempunyai logika yang cukup sederhana: uang negara
seharusnya lebih banyak dinikmati oleh masyarakat yang memang membutuhkan.
Pemerintah sendiri menyatakan bahwa selama
ini BBM subsidi masih dinikmati masyarakat yang sebenarnya mampu. Karena itu,
pembatasan untuk kelompok atas, termasuk desil 9 dan 10, sedang dipertimbangkan
sebagai salah satu cara memperbaiki ketepatan sasaran subsidi. Sekilas, gagasan
ini terdengar masuk akal. Tetapi
persoalan muncul ketika kita masuk ke pertanyaan berikutnya.
Apa Sebenarnya Desil 9 dan 10?
Istilah desil mungkin terdengar sederhana,
tetapi bagi masyarakat awam istilah ini tidak selalu mudah dipahami. Secara
sederhana, desil merupakan pengelompokan masyarakat berdasarkan tingkat
kesejahteraan. Populasi dibagi ke dalam sepuluh kelompok, dari desil 1 hingga
desil 10. Semakin tinggi desil, semakin tinggi pula tingkat kesejahteraannya.
Karena itu, desil 9 dan 10 pada dasarnya
merujuk kepada kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan relatif tinggi.
Namun, di sinilah pemerintah menghadapi pekerjaan rumah yang tidak kecil. Data
sosial-ekonomi tidak boleh keliru.
Seseorang yang secara data tercatat berada
di desil 9 belum tentu merasa dirinya sebagai orang kaya. Begitu pula seseorang
yang hari ini berada dalam kondisi ekonomi baik belum tentu kondisi ekonominya
sama enam bulan atau satu tahun kemudian.
Kondisi ekonomi masyarakat bersifat
dinamis. Pendapatan bisa berubah. Jumlah tanggungan keluarga bisa bertambah.
Seseorang bisa kehilangan pekerjaan. Usaha bisa bangkrut. Atau sebaliknya,
kondisi ekonomi seseorang bisa meningkat.
Karena itu, ketika data desil digunakan
untuk menentukan hak seseorang membeli BBM bersubsidi, akurasi dan pembaruan
data menjadi sangat penting. Pemerintah pun menyadari persoalan tersebut.
Bahlil menegaskan bahwa validitas data menjadi salah satu kunci sebelum
kebijakan pembatasan diterapkan.
Jangan Sampai Data Salah, Masyarakat yang
Menanggung
Ada satu prinsip sederhana dalam kebijakan
publik, kebijakan yang baik dengan data yang buruk dapat menghasilkan keputusan
yang buruk. Bayangkan seorang pekerja dengan penghasilan yang terlihat cukup
besar dalam database. Ia kemudian dikategorikan sebagai desil 9 atau 10.
Padahal, ia memiliki cicilan rumah, biaya
pendidikan anak, biaya kesehatan orang tua, dan berbagai kebutuhan keluarga
lainnya. Apakah ia otomatis dapat disebut “orang kaya”? Belum tentu.
Di sinilah pendekatan berbasis desil harus
dilakukan secara hati-hati. Pemerintah perlu memastikan bahwa indikator
kesejahteraan yang digunakan benar-benar menggambarkan kondisi masyarakat
secara aktual, bukan sekadar berdasarkan data lama yang belum diperbarui.
Sebab, jangan sampai kebijakan yang tujuan
awalnya adalah membela masyarakat kurang mampu justru menciptakan ketidakadilan
baru bagi masyarakat yang sebenarnya berada di kelompok menengah.
Mengapa Tidak Sekalian Berdasarkan Jenis
Kendaraan?
Menariknya, pemerintah tidak hanya
mempertimbangkan faktor ekonomi. Dalam pembahasan kebijakan tersebut,
klasifikasi kendaraan juga sempat disebut sebagai salah satu kemungkinan dasar
pembatasan. Pendekatan ini juga memiliki logika.
Sulit mengatakan bahwa seluruh pemilik
kendaraan dengan spesifikasi tertentu adalah orang kaya. Tetapi kendaraan dapat
menjadi salah satu indikator kemampuan ekonomi. Persoalannya sama, tidak ada
satu indikator yang sempurna. Orang dengan kendaraan mahal belum tentu memiliki
pendapatan tinggi. Sebaliknya, orang dengan kendaraan sederhana belum tentu
miskin.
Karena itu, jika kebijakan akhirnya
menggunakan pendekatan kombinasi antara data sosial-ekonomi dan karakteristik
kendaraan, pemerintah harus memastikan sistem tersebut tidak berubah menjadi
mekanisme yang terlalu rumit bagi masyarakat.
Yang Perlu Dijaga: Jangan Sampai Subsidi
Menjadi “Hak Istimewa”
Terlepas dari perdebatan mengenai
mekanisme, ada satu hal yang patut diapresiasi dari gagasan ini. Subsidi pada
dasarnya adalah penggunaan uang negara. Artinya, subsidi bukan uang yang muncul
begitu saja. Ada anggaran negara yang digunakan untuk membuat harga tertentu
lebih terjangkau bagi masyarakat.
Karena itu, sangat wajar apabila negara
berusaha memastikan subsidi tersebut benar-benar diterima oleh kelompok yang
membutuhkan. Bayangkan dua orang membeli Pertalite dengan harga yang sama. Orang
pertama adalah pekerja dengan penghasilan pas-pasan yang menggunakan sepeda
motor untuk mencari nafkah. Orang kedua memiliki kemampuan ekonomi jauh lebih
tinggi. Apakah keduanya harus mendapatkan subsidi dengan porsi yang sama?
Pertanyaan inilah yang sesungguhnya berada
di balik kebijakan desil 9 dan 10. Keadilan subsidi bukan selalu berarti semua
orang mendapatkan subsidi yang sama. Keadilan bisa berarti subsidi diberikan
lebih besar kepada mereka yang lebih membutuhkan.
Tetapi Jangan Sampai Masyarakat Menengah
Menjadi Korban
Di sisi lain, pemerintah juga harus
berhati-hati agar kebijakan ini tidak menimbulkan anggapan bahwa setiap orang
yang masuk desil 9 atau 10 adalah “orang kaya”. Kelompok masyarakat Indonesia
sangat beragam. Ada kelompok masyarakat yang memang sangat mampu. Tetapi ada
pula masyarakat kelas menengah yang secara statistik terlihat relatif
sejahtera, namun sesungguhnya memiliki beban ekonomi yang besar.
Jika kelompok tersebut tiba-tiba harus
beralih dari Pertalite ke BBM nonsubsidi, pengeluaran transportasi mereka bisa
meningkat. Dan apabila biaya transportasi meningkat, efeknya tidak berhenti
pada tangki kendaraan. Biaya perjalanan ke tempat kerja naik. Biaya distribusi
barang dapat meningkat. Biaya operasional usaha kecil bisa bertambah. Pada
akhirnya, kenaikan biaya tersebut dapat merembet ke harga barang dan jasa. Karena
itu, efisiensi anggaran subsidi harus dihitung bersama dengan dampak ekonominya
terhadap masyarakat.
Kebijakan yang Baik Harus Diikuti
Mekanisme Keberatan
Ada satu aspek yang menurut saya tidak
boleh dilupakan apabila kebijakan ini benar-benar diterapkan: mekanisme koreksi
data. Bagaimana jika seseorang merasa dirinya salah dimasukkan ke desil 10? Ke mana ia harus mengadu? Berapa lama
proses koreksinya? Apakah selama proses koreksi ia tetap tidak dapat membeli
Pertalite? Bagaimana jika
ternyata data memang salah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus
dijawab sejak awal. Jangan sampai masyarakat hanya menerima pesan “anda desil
10, sehingga tidak boleh membeli Pertalite.” Tetapi ketika masyarakat
mengatakan “data saya salah,” tidak tersedia mekanisme yang jelas untuk
memperbaikinya.
Dalam negara yang berbasis hukum dan
administrasi pemerintahan yang baik, masyarakat bukan hanya membutuhkan
keputusan yang benar, tetapi juga membutuhkan prosedur yang adil untuk
mengoreksi keputusan yang salah.
Jangan Hanya Memikirkan SPBU, Pikirkan
Juga Sistem Datanya
Pembatasan Pertalite berdasarkan desil
pada akhirnya bukan sekadar persoalan SPBU. Di belakangnya terdapat sistem data
yang sangat besar. Data sosial-ekonomi harus terhubung dengan sistem
identifikasi masyarakat. Sistem pembelian BBM harus mampu membaca data
tersebut. Operator SPBU harus mendapatkan informasi yang tepat. Dan seluruh
sistem harus memiliki perlindungan terhadap kesalahan maupun penyalahgunaan
data.
Pemerintah sendiri saat ini masih
melakukan pembenahan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebelum
kebijakan tersebut diterapkan. Kementerian Keuangan bahkan telah memberikan
dukungan anggaran kepada BPS untuk optimalisasi pengumpulan data, termasuk
DTSEN.
Artinya, pemerintah sebenarnya sedang
berhadapan dengan pekerjaan yang jauh lebih besar daripada sekadar membatasi
pembelian Pertalite. Yang sedang dibangun adalah mekanisme baru penyaluran
subsidi berbasis identitas dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat.
Dari Subsidi Komoditas Menuju Subsidi yang
Lebih Tepat Sasaran
Jika berhasil, kebijakan ini dapat menjadi
langkah penting dalam reformasi subsidi Indonesia. Selama ini pertanyaannya
adalah “barang apa yang disubsidi?” Ke depan pertanyaannya dapat berubah
menjadi “siapa yang seharusnya mendapatkan subsidi?”
Perubahan cara berpikir tersebut sangat
penting. Sebab, apabila subsidi diberikan kepada komoditas, orang yang
membutuhkan dan orang yang tidak membutuhkan dapat sama-sama menikmati subsidi.
Tetapi apabila subsidi diberikan kepada orang yang tepat, anggaran negara dapat
digunakan secara lebih efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Inilah alasan mengapa gagasan pembatasan
Pertalite bagi desil 9 dan 10 patut dilihat bukan sekadar sebagai larangan
membeli BBM murah, tetapi sebagai bagian dari upaya pemerintah memperbaiki
desain kebijakan subsidi.
Pertalite dan Ujian Keadilan Kebijakan
Publik
Pada akhirnya, keberhasilan kebijakan ini
tidak akan ditentukan hanya oleh seberapa banyak anggaran subsidi yang dapat
dihemat. Ukuran keberhasilannya jauh lebih besar, apakah masyarakat yang
benar-benar membutuhkan subsidi tetap terlindungi? Apakah masyarakat yang
sebenarnya mampu tidak lagi menikmati subsidi secara berlebihan? Apakah data
yang digunakan benar-benar akurat? Apakah tersedia mekanisme keberatan ketika
terjadi kesalahan? Dan yang tidak kalah penting, apakah kebijakan tersebut
dapat diterapkan secara sederhana, transparan, dan tidak menyulitkan
masyarakat?
Pemerintah saat ini masih mengkaji
pembatasan tersebut dan belum menerapkannya sebagai aturan final. Bahkan
pemerintah menegaskan bahwa validitas data menjadi syarat penting sebelum
kebijakan dijalankan. Karena itu, publik tidak perlu terburu-buru menyimpulkan
bahwa “desil 9 dan 10 pasti tidak boleh membeli Pertalite.”
Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa pemerintah
sedang menyiapkan skema pembatasan subsidi Pertalite bagi kelompok tersebut. Dan
ketika kebijakan itu benar-benar diterapkan nanti, masyarakat tentu berhak
berharap satu hal subsidi memang harus tepat sasaran, tetapi ketepatan sasaran
juga harus dibangun dengan data yang tepat, prosedur yang adil, dan pelaksanaan
yang tidak merugikan masyarakat.
Sebab pada akhirnya, subsidi bukan hanya
soal harga BBM. Subsidi adalah soal siapa yang diprioritaskan oleh
negara. Dan ketika negara menentukan siapa yang berhak mendapatkan subsidi,
maka yang sedang diuji sesungguhnya bukan hanya ketepatan data, tetapi juga rasa
keadilan pemerintah dalam mengelola uang rakyat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar