Mengapa Toleransi Tidak Cukup Hanya Dibicarakan?
Indonesia
dibangun di atas keberagaman. Perbedaan agama, keyakinan, suku, budaya, dan
pandangan hidup merupakan kenyataan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
bangsa. Namun, keberagaman tidak selalu otomatis melahirkan kerukunan. Perbedaan
dapat menjadi kekuatan ketika dikelola dengan bijaksana. Sebaliknya, perbedaan juga dapat menjadi sumber
konflik ketika setiap kelompok merasa paling benar dan menganggap kelompok lain
sebagai ancaman.
Di sinilah toleransi menemukan maknanya. Toleransi bukan berarti seseorang harus
meninggalkan keyakinannya. Toleransi juga bukan berarti semua agama harus
dianggap sama. Toleransi adalah kemampuan untuk menghormati keberadaan,
keyakinan, dan hak orang lain meskipun terdapat perbedaan yang mendasar. Dengan
kata lain, toleransi bukan menghapus perbedaan, melainkan belajar hidup secara
damai di tengah perbedaan.
Toleransi dan Persoalan Klaim Kebenaran
Persoalan toleransi antarumat beragama
menjadi semakin kompleks ketika menyentuh wilayah keyakinan. Setiap pemeluk
agama tentu memiliki keyakinan mengenai kebenaran agamanya. Keyakinan tersebut
merupakan bagian penting dari kehidupan beragama dan tidak perlu dihilangkan.
Masalah muncul ketika keyakinan terhadap
kebenaran sendiri berubah menjadi keinginan untuk memaksakan keyakinan tersebut
kepada orang lain. Lebih jauh lagi, persoalan menjadi sangat serius ketika
pemaksaan dilakukan melalui intimidasi, diskriminasi, bahkan kekerasan.
Pada titik inilah agama yang seharusnya
menjadi sumber kedamaian justru dapat disalahgunakan untuk membenarkan tindakan
yang merugikan sesama manusia. Padahal, perbedaan keyakinan merupakan kenyataan
sosial yang harus dihadapi dengan kedewasaan. Beriman dengan teguh tidak
berarti harus membenci orang yang berbeda.
Dari Kompetisi yang Tidak Sehat Menuju
Kompetisi dalam Kebaikan
Cara pandang terhadap hubungan antaragama
juga perlu mengalami perubahan. Dalam paradigma lama, kompetisi misi keagamaan
terkadang dipahami sebagai upaya memenangkan sebanyak mungkin orang dari
kelompok lain. Akibatnya, hubungan antarumat beragama dapat berubah menjadi
kompetisi yang tidak sehat, bahkan mengabaikan etika sosial. Paradigma semacam
ini berpotensi melahirkan kecurigaan.
Kelompok lain tidak lagi dipandang sebagai
sesama manusia, tetapi sebagai objek yang harus dipengaruhi atau dikalahkan. Paradigma
baru seharusnya menawarkan cara pandang yang berbeda. Kompetisi antarumat
beragama seharusnya diarahkan kepada fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam
kebaikan. Bukan berlomba untuk menunjukkan siapa yang paling berkuasa,
melainkan siapa yang paling banyak memberikan manfaat bagi sesama.
Jika demikian, keberagaman agama justru
dapat menjadi energi positif bagi kehidupan masyarakat. Setiap agama dapat
mendorong umatnya untuk memperbaiki kualitas keimanan, memperkuat moralitas,
meningkatkan kepedulian sosial, dan memberikan kontribusi nyata bagi
kemanusiaan.
Jangan Jadikan Manusia Sekadar Objek
Kepentingan
Hubungan antaragama akan sulit berkembang
secara sehat apabila manusia hanya dipandang sebagai objek kepentingan. Ketika
seseorang merasa bahwa dirinya sedang didekati bukan sebagai manusia, melainkan
sebagai target kepentingan politik, ekonomi, atau konversi agama, maka hubungan
yang terbangun akan kehilangan ketulusan. Padahal, hubungan antarumat beragama
membutuhkan kontak manusiawi yang alami.
Kita perlu bertemu sebagai manusia sebelum
berbicara mengenai perbedaan. Kita perlu saling mengenal sebelum saling
menilai. Kita perlu bekerja sama sebelum saling mencurigai. Di sinilah dialog
antaragama menjadi penting. Dialog bukan berarti seseorang harus mengorbankan
keyakinannya. Dialog justru merupakan sarana untuk memahami bahwa manusia yang
berbeda keyakinan tetap memiliki persoalan kemanusiaan yang sama.
Dari Konflik Menuju Persaudaraan Universal
Jika paradigma lama menjadikan perbedaan
agama sebagai sumber pertentangan, paradigma baru harus menjadikan perbedaan
sebagai pintu menuju persaudaraan. Persaudaraan tersebut dapat disebut sebagai persaudaraan
kemanusiaan atau ukhuwah basyariyah. Kita boleh berbeda dalam keyakinan,
tetapi kita memiliki persoalan bersama.
Kemiskinan tidak mengenal agama. Bencana
tidak memilih keyakinan. Kerusakan lingkungan tidak bertanya seseorang berasal
dari agama apa. Ketidakadilan juga dapat menimpa siapa saja.
Karena itu, ada begitu banyak persoalan
yang seharusnya menjadi ruang kerja sama lintas agama: kemiskinan, pendidikan,
lingkungan hidup, kemanusiaan, kesehatan, moralitas publik, perlindungan
kelompok rentan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Pada titik tersebut, agama tidak lagi
hanya berbicara mengenai dirinya sendiri. Agama hadir untuk memberikan jawaban terhadap
persoalan kemanusiaan.
Mencari Titik Temu, Bukan Mempertajam
Perbedaan
Dalam hubungan antaragama, kita sering
terlalu sibuk mencari perbedaan. Padahal, jauh lebih banyak ruang untuk
menemukan titik temu. Setiap agama memiliki ajaran mengenai kebaikan,
kejujuran, kasih sayang, kepedulian terhadap sesama, keadilan, dan tanggung
jawab moral. Titik temu tersebut dapat menjadi common platform, sebuah
ruang bersama tempat setiap kelompok dapat bekerja sama tanpa harus kehilangan
identitasnya.
Karena itu, toleransi tidak mengharuskan
seseorang menjadi tidak beragama atau menghilangkan identitas keagamaannya. Justru
sebaliknya, seseorang dapat tetap teguh dengan keyakinannya sekaligus
menghormati orang lain yang memiliki keyakinan berbeda. Identitas tidak harus
hilang agar toleransi dapat tumbuh.
Dari Formalitas Menuju Substansi
Tantangan toleransi juga berkaitan dengan
cara kita memahami kehidupan beragama. Agama memang memiliki aspek formal,
ritual, simbolik, dan doktrinal. Semua itu penting bagi kehidupan umat
beragama. Namun, keberagamaan tidak boleh berhenti pada simbol. Ada pertanyaan yang jauh lebih penting, apa
dampak keimanan kita terhadap perilaku kita kepada sesama?
Jika seseorang rajin menjalankan ritual
tetapi mudah menghina orang lain, gemar menyebarkan kebencian, atau merasa
berhak melakukan kekerasan terhadap kelompok berbeda, maka ada persoalan serius
dalam memahami substansi keberagamaan.
Ritualitas seharusnya melahirkan perilaku
yang semakin baik. Keimanan seharusnya memperkuat kemanusiaan. Dan agama
seharusnya menjadi sumber kedamaian, bukan alasan untuk melakukan kekerasan. Karena
itu, penguatan toleransi harus berjalan bersama dengan penguatan sikap dan
perilaku keagamaan yang substantif.
Peran Tokoh Agama Sangat Penting
Dalam membangun toleransi, tokoh agama
mempunyai posisi yang sangat strategis. Masyarakat mendengarkan apa yang disampaikan oleh pemimpinnya. Karena itu,
satu kalimat dari seorang tokoh agama dapat menyejukkan masyarakat, tetapi juga
dapat memperbesar ketegangan apabila disampaikan tanpa kehati-hatian.
Tokoh agama seharusnya menjadi jembatan. Mereka
perlu mendorong umat untuk berkomunikasi, berdialog, berinteraksi, dan bekerja
sama dalam persoalan kemanusiaan. Tidak sepatutnya ruang keagamaan dipenuhi
hasutan, tuduhan, atau penghinaan terhadap kelompok lain. Sebaliknya,
diperlukan keterbukaan pikiran (openness of mind) dan kemauan untuk
belajar (eagerness to learn).
Kita
tidak akan pernah benar-benar memahami orang lain apabila kita selalu datang
dengan keyakinan bahwa hanya diri kitalah yang memiliki kebenaran dan orang
lain pasti salah.
Ketika Pluralitas Belum Menjamin Kerukunan
Indonesia adalah negara plural. Tetapi
pluralitas saja belum tentu menghasilkan harmoni.
Ini merupakan fakta sosial yang harus kita
akui. Masyarakat dapat hidup berdampingan dalam satu wilayah yang sama, tetapi
tetap menyimpan prasangka dan kecurigaan terhadap kelompok lain. Bahkan, dalam
kondisi tertentu, perbedaan agama dapat menjadi pemicu konflik sosial.
Mengapa? Jawabannya tentu tidak sederhana.
Ada faktor politik, ekonomi, sosial, sejarah, pendidikan, informasi yang salah,
provokasi, fanatisme, hingga kepentingan kelompok yang memanfaatkan sentimen
agama. Karena itu, membangun toleransi tidak cukup hanya dengan membuat slogan
tentang kerukunan. Toleransi harus menjadi praktik kehidupan sehari-hari.
Jangan Biarkan Toleransi Hanya Menjadi
Wacana Elit
Salah satu persoalan terbesar adalah
adanya jarak antara wacana intelektual dan kehidupan masyarakat akar rumput. Di
kalangan akademisi dan intelektual, pembicaraan mengenai toleransi,
inklusivisme, pluralisme, dan dialog antaragama mungkin sudah sangat
berkembang. Namun, pertanyaannya, apakah gagasan tersebut benar-benar telah
sampai kepada masyarakat?
Jangan sampai toleransi hanya menjadi
bahasa seminar, sementara di tengah masyarakat masih tumbuh eksklusivisme,
komunalisme, prasangka, dan bahkan kebencian terhadap kelompok berbeda. Jika
hal tersebut terjadi, berarti terdapat gap antara wacana dan kenyataan. Karena
itu, toleransi harus diterjemahkan ke dalam tindakan yang konkret.
Pendidikan harus mengajarkan penghormatan
terhadap perbedaan. Tokoh agama harus memberikan teladan. Pemerintah harus
menjamin kebebasan beragama sesuai dengan konstitusi dan hukum. Masyarakat
harus menolak kekerasan dan diskriminasi. Dan setiap individu harus belajar
bahwa berbeda bukan berarti bermusuhan.
Mengatasi “Hambatan Teologis”
Salah satu tantangan paling sulit dalam
membangun toleransi adalah apa yang dapat disebut sebagai hambatan teologis. Sebagian
orang merasa bahwa menghormati keyakinan orang lain berarti mengurangi
keyakinannya sendiri. Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda.
Menghormati orang lain tidak berarti
menyetujui seluruh keyakinannya. Kita dapat mengatakan, “Saya meyakini agama
saya benar,” tanpa harus mengatakan, “Karena itu, Anda tidak berhak hidup
dengan keyakinan Anda.” Inilah kedewasaan yang dibutuhkan dalam masyarakat
plural.
Keyakinan adalah wilayah batin yang sangat
dalam. Sementara kehidupan bersama membutuhkan aturan sosial yang memungkinkan
setiap warga hidup aman, bermartabat, dan saling menghormati. Karena itu, keteguhan
iman dan toleransi bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya justru dapat
berjalan berdampingan.
Toleransi Bukan Berarti Kehilangan
Identitas
Ada kekhawatiran bahwa toleransi akan
membuat seseorang kehilangan identitas agamanya. Kekhawatiran tersebut
sebenarnya tidak perlu terjadi. Toleransi bukanlah ajakan untuk
mencampuradukkan keyakinan. Toleransi bukan pula tuntutan agar seseorang
meninggalkan prinsip agamanya. Toleransi adalah kesediaan untuk mengakui bahwa
orang lain memiliki hak untuk menjalankan keyakinannya tanpa intimidasi dan
kekerasan.
Dengan demikian, seseorang dapat tetap
religius sekaligus toleran. Bahkan,
semakin kuat kualitas keagamaan seseorang, semestinya semakin kuat pula
penghormatannya terhadap martabat manusia.
Toleransi adalah Pilihan untuk Hidup
Bersama
Pada akhirnya, toleransi bukan sekadar
konsep. Ia adalah pilihan hidup. Pilihan untuk tidak membalas kebencian dengan
kebencian. Pilihan untuk
berdialog ketika perbedaan muncul. Pilihan untuk menyelesaikan persoalan
melalui hukum, bukan kekerasan. Pilihan untuk melihat orang lain sebagai
manusia sebelum melihat identitas agamanya. Dan pilihan untuk membangun
persaudaraan di tengah perbedaan.
Indonesia tidak membutuhkan masyarakat
yang seragam. Indonesia membutuhkan masyarakat yang mampu hidup bersama tanpa
harus menjadi sama. Perbedaan agama tidak perlu dihapuskan agar persaudaraan
dapat tumbuh. Justru di tengah perbedaan itulah kualitas persaudaraan kita
diuji.
Penutup: Berbeda dalam Keyakinan, Bersama
dalam Kemanusiaan
Konflik antarumat beragama selalu memiliki
potensi untuk memecah persatuan bangsa. Karena itu, toleransi harus terus
dirawat dan diperbarui. Namun, toleransi tidak boleh berhenti pada slogan. Ia
harus hadir dalam cara kita berbicara, bersikap, bertetangga, bekerja sama,
menggunakan media sosial, dan menyelesaikan perbedaan.
Kita tidak perlu kehilangan identitas
agama untuk menghormati orang lain. Kita tidak perlu meninggalkan keyakinan
untuk membangun persaudaraan. Kita hanya perlu memahami satu hal sederhana, keyakinan
boleh berbeda, tetapi kemanusiaan adalah ruang bersama.
Maka, jangan jadikan perbedaan sebagai
alasan untuk saling membenci. Jadikan perbedaan sebagai kesempatan untuk saling
mengenal. Jangan berlomba menjadi kelompok yang paling keras. Berlombalah
menjadi kelompok yang paling banyak memberikan kebaikan.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberagamaan bukan hanya seberapa kuat seseorang mempertahankan identitasnya, tetapi juga seberapa besar kehadirannya membawa kedamaian dan kemanfaatan bagi sesama manusia.