Mengapa Cara Kita Memandang BBM Perlu Diubah?
Setiap kali harga bahan bakar minyak (BBM)
naik, perdebatan yang sama hampir selalu muncul. Pemerintah dituduh tidak
berpihak kepada rakyat, masyarakat khawatir harga pangan melonjak, sementara
subsidi kembali menjadi arena pertarungan politik. Padahal, sebelum terjebak
dalam perdebatan politik, ada satu hal yang seharusnya kita sepakati terlebih
dahulu: bagaimana sebenarnya posisi BBM Indonesia hari ini?
Jangan sampai persoalan yang sesungguhnya
bersifat ekonomi dan struktural justru diputar menjadi sekadar persoalan
politik. Indonesia harus mulai berani mengakui satu kenyataan: kita bukan lagi
negara kaya minyak seperti yang selama ini dibayangkan.
Kita Masih Merasa sebagai Negara Kaya
Minyak
Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia
hidup dengan sebuah persepsi bahwa negeri ini kaya minyak. Persepsi tersebut
tidak sepenuhnya mengherankan. Indonesia memang pernah menjadi salah satu
negara eksportir minyak dan bahkan pernah menjadi anggota OPEC.
Namun, kondisi tersebut sudah berubah. Produksi
minyak Indonesia menghadapi tantangan penurunan cadangan dan produksi,
sementara kebutuhan energi terus meningkat. Indonesia bahkan telah keluar dari
OPEC karena posisi Indonesia sebagai eksportir minyak tidak lagi seperti masa
lalu.
Ironisnya, cara berpikir sebagian
masyarakat masih tertinggal dari kenyataan tersebut. Kita masih sering
memperlakukan BBM seolah-olah merupakan barang murah yang tersedia tanpa batas
dari perut bumi sendiri.
Padahal, ketika kebutuhan BBM tidak dapat
dipenuhi dari produksi dalam negeri, Indonesia harus mengimpornya. Dan impor
berarti kita harus membayar menggunakan valuta asing. Di sinilah persoalan BBM
sebenarnya mulai menjadi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar harga
di SPBU.
BBM Bukan Sekadar Soal Harga di SPBU
Harga BBM sering dilihat hanya dari sisi
berapa rupiah yang harus dibayar konsumen ketika mengisi kendaraan. Padahal, di
belakang angka tersebut terdapat persoalan impor, nilai tukar rupiah, kebutuhan
devisa, produksi minyak nasional, investasi energi, teknologi, hingga kondisi
geopolitik dunia.
Jika sebagian kebutuhan BBM harus dipenuhi
melalui impor, kenaikan harga minyak dunia dapat memberikan tekanan terhadap
kebutuhan devisa Indonesia. Apalagi jika pembiayaan berbagai kebutuhan negara
semakin bergantung pada utang. Karena itu, mempertahankan harga BBM agar selalu murah melalui subsidi
bukan berarti persoalan selesai. Pertanyaannya justru harus dibalik:
Murah bagi siapa, dan dibayar dengan biaya
apa?
Jika harga murah dipertahankan dengan
subsidi yang semakin besar, sementara sumber pembiayaannya terbatas atau bahkan
bergantung pada utang, maka biaya tersebut pada akhirnya tetap harus dibayar. Hanya
saja, masyarakat mungkin tidak membayarnya langsung ketika membeli BBM.
Mereka dapat membayarnya melalui tekanan
terhadap anggaran negara, meningkatnya kebutuhan utang, tekanan nilai tukar,
atau berkurangnya ruang fiskal pemerintah untuk membiayai sektor lain.
Minyak Ada, Tetapi Tanpa Teknologi Tidak
Banyak Artinya
Persoalan berikutnya adalah investasi. Untuk
meningkatkan produksi migas, negara membutuhkan investasi baru. Tidak cukup
hanya mengatakan bahwa Indonesia masih mempunyai cadangan minyak.
Minyak yang berada di dalam bumi tidak
otomatis dapat menjadi BBM yang siap digunakan masyarakat. Diperlukan
teknologi, modal, sumber daya manusia, infrastruktur, serta kemampuan
eksplorasi dan produksi. Inilah persoalan yang sering luput dari perdebatan
publik. Memiliki cadangan minyak tanpa kemampuan teknologi dan investasi yang
memadai bukanlah jaminan bahwa minyak tersebut dapat diproduksi secara
ekonomis.
Indonesia juga menghadapi kondisi
geografis yang tidak sederhana. Indonesia adalah negara kepulauan. Sementara
itu, banyak temuan migas baru tidak selalu berada dalam lokasi yang besar dan
mudah dikembangkan secara ekonomis. Artinya, biaya eksplorasi, produksi,
pengolahan, hingga distribusi dapat menjadi persoalan tersendiri.
Karena itu, kita tidak bisa membandingkan
kondisi Indonesia secara sederhana dengan negara-negara yang memiliki cadangan
migas sangat besar dan terkonsentrasi dalam wilayah yang relatif lebih mudah
dieksploitasi.
Dunia Energi Sudah Berubah
Persoalan BBM juga tidak bisa dilepaskan
dari perubahan teknologi energi dunia. Amerika Serikat, misalnya, mengalami
perubahan besar dalam industri energi melalui pengembangan teknologi hydraulic
fracturing dan horizontal drilling yang memungkinkan produksi minyak
dan gas dari formasi shale dalam skala besar. Perkembangan tersebut mengubah
peta energi global. Artinya, dunia tidak berhenti pada teknologi eksploitasi
minyak konvensional.
Teknologi terus berkembang, dan negara
yang terlambat berinvestasi dalam teknologi energi akan menghadapi persoalan
daya saing. Indonesia karena itu tidak cukup hanya bertanya “Berapa banyak
minyak yang masih kita punya?” Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah “Seberapa
mampu kita mengubah sumber daya tersebut menjadi energi dengan biaya yang
efisien?”
Politik Jangan Mengalahkan Akal Sehat
Masalah BBM sering kali menjadi sangat
politis. Ketika harga BBM naik, pemerintah menjadi sasaran kritik. Ketika
subsidi dikurangi, muncul tudingan bahwa pemerintah tidak berpihak kepada
rakyat. Sebaliknya, ketika subsidi dipertahankan, hampir tidak pernah
masyarakat diajak berdiskusi secara serius mengenai dari mana uang untuk
membiayainya berasal.
Inilah yang perlu diubah. Kebijakan energi
seharusnya tidak boleh hanya ditentukan oleh popularitas politik jangka pendek.
Sebab persoalan energi
memiliki konsekuensi puluhan tahun. Presiden boleh berganti.
Menteri boleh berganti. Partai politik yang berkuasa juga dapat berganti. Tetapi
kebutuhan energi masyarakat akan terus meningkat. Cadangan sumber daya alam
juga tidak akan bertambah hanya karena kita terus memperdebatkannya.
Mengapa Kita Takut BBM Naik?
Salah satu alasan paling kuat untuk
mempertahankan subsidi BBM adalah kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang. Kekhawatiran
itu tentu masuk akal. BBM merupakan salah satu komponen biaya transportasi dan
distribusi. Karena itu,
perubahan harga BBM memang dapat memberikan tekanan terhadap biaya berbagai
kegiatan ekonomi.
Tetapi ada pertanyaan yang juga layak
diajukan, apakah harga pangan baru naik ketika harga BBM naik? Bukankah sebelum
kenaikan harga BBM, masyarakat juga sudah sering menghadapi kenaikan harga
daging, bawang, beras, tepung, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya?
Kalau begitu, jangan sampai setiap
kenaikan harga pangan secara otomatis dibebankan kepada kenaikan harga BBM. Ada
persoalan lain yang harus diperiksa: produksi, distribusi, rantai pasok, tata
niaga, produktivitas pertanian, impor, biaya logistik, hingga kemungkinan
adanya praktik perdagangan yang tidak sehat.
Dengan kata lain, BBM bukan satu-satunya
variabel yang menentukan harga pangan. Subsidi yang Salah Sasaran Bisa Menjadi
Masalah Baru Ada ironi lain yang perlu kita pikirkan. Jika subsidi BBM terus dipertahankan dengan
pembiayaan yang membebani fiskal, dampaknya tidak berhenti pada sektor energi.
Tekanan terhadap anggaran dan kebutuhan
pembiayaan dapat memengaruhi kondisi ekonomi secara lebih luas. Dalam skenario
tertentu, tekanan terhadap devisa dan nilai tukar dapat membuat barang impor
menjadi lebih mahal. Padahal Indonesia masih mengimpor berbagai kebutuhan,
termasuk sebagian bahan baku dan komoditas pangan.
Ketika rupiah melemah, biaya barang impor
dalam rupiah meningkat. Maka, pada titik tertentu, subsidi yang dimaksudkan
untuk menjaga daya beli justru dapat menciptakan persoalan ekonomi lain apabila
desain dan pembiayaannya tidak sehat. Karena itu, pertanyaan yang tepat bukan
semata-mata “Bagaimana agar BBM tetap murah?” Melainkan “Bagaimana memastikan
masyarakat tetap memiliki daya beli tanpa membuat fondasi ekonomi negara
semakin rapuh?”
Kita Tidak Bisa Selamanya Mabuk Minyak
Ada satu perubahan cara berpikir yang
harus dilakukan. BBM murah memang menyenangkan bagi konsumen. Tetapi harga yang
terlalu murah juga dapat mendorong konsumsi berlebihan. Ketika masyarakat tidak
merasakan biaya sebenarnya dari penggunaan energi, insentif untuk menghemat
energi menjadi lebih kecil.
Padahal bahan bakar fosil merupakan sumber
daya yang terbatas dan penggunaannya juga berkaitan dengan persoalan emisi gas
rumah kaca serta perubahan iklim. Karena itu, kebijakan energi harus mulai
diarahkan pada dua hal sekaligus ketersediaan energi dan efisiensi penggunaan
energi. Artinya, diperlukan insentif untuk menggunakan energi secara efisien
sekaligus disinsentif terhadap pemborosan energi fosil.
Harga adalah salah satu instrumen
kebijakan untuk membentuk perilaku tersebut. Bukan berarti rakyat harus dibuat
sengsara. Justru pemerintah harus memastikan bahwa perubahan harga dilakukan
secara bertahap, terukur, transparan, dan disertai perlindungan kepada kelompok
masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Solusinya Bukan Sekadar Menaikkan Harga
Namun demikian, mengatakan bahwa BBM harus
mahal juga tidak boleh menjadi kesimpulan yang terlalu sederhana. Harga BBM
bukan obat untuk semua persoalan energi. Jika harga BBM dinaikkan tetapi
transportasi publik tidak diperbaiki, industri tidak dibantu beradaptasi,
energi alternatif tidak dikembangkan, dan tata kelola migas masih bermasalah,
maka masyarakat hanya akan menerima bebannya tanpa memperoleh alternatif yang
memadai.
Karena itu, reformasi energi harus
dilakukan secara menyeluruh. Pertama, investasi migas dan teknologi harus
diperkuat untuk memastikan sumber daya yang masih tersedia dapat dimanfaatkan
secara efisien. Kedua, energi alternatif dan energi terbarukan harus
dikembangkan secara serius, bukan sekadar menjadi slogan. Ketiga, transportasi
publik harus diperkuat, sehingga masyarakat mempunyai pilihan selain kendaraan
pribadi. Keempat, subsidi harus semakin tepat sasaran, bukan sekadar murah bagi
semua orang. Kelima, pemberantasan korupsi dan perbaikan tata kelola energi
harus menjadi agenda utama. Dan keenam, kebijakan energi harus dibuat
berdasarkan data dan kepentingan jangka panjang, bukan semata-mata kalkulasi
elektoral.
Jangan Jadikan BBM sebagai Komoditas
Politik
Pada akhirnya, persoalan BBM adalah
persoalan pilihan. Apakah kita ingin mempertahankan ilusi bahwa Indonesia masih
merupakan negeri kaya minyak yang dapat menyediakan BBM murah selamanya? Atau
kita mau menerima kenyataan bahwa sumber daya energi terbatas dan dunia sedang
bergerak menuju sistem energi yang berbeda?
Pilihan kedua memang tidak mudah. Menaikkan
harga BBM tidak pernah populer. Mengurangi subsidi juga tidak mudah. Mengubah
perilaku masyarakat membutuhkan waktu. Mengembangkan energi alternatif
membutuhkan investasi besar. Tetapi negara tidak boleh hanya mengambil
kebijakan yang populer. Negara harus mengambil kebijakan yang benar dan
berkelanjutan.
Pesannya Sederhana
Karena itu, mungkin sudah waktunya kita
berhenti bertengkar soal BBM hanya berdasarkan kepentingan politik. Mari kita mulai dari kenyataan yang sama. Indonesia
bukan lagi eksportir minyak seperti dahulu. Produksi dan cadangan menghadapi tantangan.
Kebutuhan energi meningkat. Impor membutuhkan devisa. Teknologi energi
berkembang sangat cepat. Dan lingkungan membutuhkan perubahan cara kita menggunakan
energi.
Maka jawabannya bukan sekadar “naikkan
harga BBM” atau “tolak kenaikan BBM.” Jawabannya jauh lebih besar perbaiki tata
kelola, berantas korupsi, tingkatkan investasi dan teknologi, bangun energi
alternatif, perbaiki transportasi publik, dan gunakan subsidi secara tepat
sasaran. Dan yang tidak kalah penting, kita harus mengubah cara berpikir. Jangan
sampai kita terus merasa kaya minyak hanya karena dahulu pernah menjadi negara
eksportir minyak.
Kita tidak sedang hidup di masa lalu.
Energi dunia berubah. Indonesia juga harus berubah. Sebab pada akhirnya, persoalan BBM bukan hanya tentang berapa rupiah yang kita bayarkan hari ini. Persoalannya adalah seperti apa Indonesia ingin bertahan dan membangun ekonominya ketika minyak murah tidak lagi menjadi kenyataan.