Senin, 07 September 2026

Ketika Gunung Meletus, Belajar Tak Harus Berhenti: Peran Pembelajaran Jarak Jauh di Tengah Bencana

 

Bayangkan pagi yang biasanya dipenuhi suara bel sekolah tiba-tiba berubah menjadi suasana penuh kepanikan. Abu vulkanik mulai turun, udara menjadi tidak sehat, jalan-jalan harus dihindari, dan sekolah terpaksa ditutup demi keselamatan siswa serta guru.

Dalam situasi seperti ini, pendidikan menghadapi tantangan besar: bagaimana anak-anak tetap belajar ketika sekolah tidak lagi menjadi tempat yang aman untuk didatangi? Salah satu jawabannya adalah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

PJJ bukan sekadar memindahkan kegiatan belajar dari ruang kelas ke layar ponsel atau komputer. Dalam kondisi bencana seperti erupsi gunung berapi, PJJ menjadi bentuk adaptasi agar hak anak untuk memperoleh pendidikan tetap terpenuhi tanpa mengorbankan keselamatan mereka.

Erupsi Gunung Berapi dan Terhentinya Aktivitas Sekolah

Erupsi gunung berapi dapat membawa berbagai dampak bagi kehidupan masyarakat. Abu vulkanik dapat mengganggu kualitas udara, menghambat perjalanan, merusak fasilitas, bahkan membuat beberapa wilayah harus dikosongkan sementara.

Kondisi tersebut tentu berpengaruh langsung terhadap dunia pendidikan. Sekolah yang berada di kawasan terdampak mungkin tidak dapat digunakan, sementara perjalanan menuju sekolah juga dapat membahayakan siswa dan guru.

Pemerintah Indonesia sendiri telah menegaskan bahwa dalam kondisi bencana, keselamatan peserta didik dan pendidik harus menjadi prioritas, sementara pembelajaran tetap diupayakan berlangsung melalui metode yang sesuai dengan kondisi lapangan. 

Dalam kasus erupsi Gunung Anak Krakatau pada September 2026, misalnya, Kemendikdasmen menyatakan bahwa wilayah dengan kondisi udara yang cukup berat dapat menerapkan pembelajaran dari rumah atau lokasi aman melalui PJJ. 

PJJ: Kelas yang Berpindah ke Rumah

Ketika sekolah harus ditutup sementara, rumah dapat berubah menjadi ruang kelas. Guru dapat memberikan materi melalui video pembelajaran, pesan singkat, konferensi video, modul digital, atau tugas yang dapat dikerjakan secara mandiri. Siswa pun tetap memiliki rutinitas belajar meskipun tidak berada di lingkungan sekolah.

Namun, ada satu hal penting: PJJ dalam situasi bencana tidak selalu berarti belajar menggunakan internet. Tidak semua keluarga memiliki koneksi internet yang stabil, perangkat yang memadai, atau listrik yang selalu tersedia. Karena itu, pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti modul cetak, buku, tugas sederhana, radio, atau komunikasi langsung dengan guru ketika kondisi memungkinkan. Pemerintah juga menegaskan bahwa PJJ perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing daerah. Dengan kata lain, teknologi hanyalah alat. Yang paling penting adalah memastikan anak tetap mendapatkan kesempatan untuk belajar.

Tantangan Belajar di Tengah Abu Vulkanik

Meskipun PJJ menawarkan solusi, pelaksanaannya tidak selalu mudah. Siswa yang berada di wilayah terdampak bencana dapat menghadapi berbagai kesulitan. Konsentrasi belajar bisa menurun karena mereka merasa cemas. Orang tua mungkin sibuk mengurus kebutuhan keluarga. Bahkan akses terhadap internet, listrik, dan perangkat pembelajaran bisa terganggu.

Di sinilah guru memiliki peran yang sangat penting. Guru tidak hanya dituntut menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga perlu memahami kondisi psikologis siswanya. Dalam situasi bencana, pembelajaran sebaiknya tidak terlalu membebani anak dengan tugas yang berlebihan.

Kebijakan pendidikan dalam situasi bencana juga mendorong pendekatan yang lebih fleksibel, termasuk penyesuaian materi pada hal-hal esensial seperti keselamatan diri, mitigasi bencana, literasi, numerasi, serta dukungan psikososial. 

Belajar Sekaligus Mengenal Bencana

Menariknya, erupsi gunung berapi juga dapat menjadi kesempatan untuk memberikan pembelajaran yang lebih kontekstual. Daripada hanya membaca teori tentang gunung berapi dari buku, siswa dapat mempelajari bencana yang sedang terjadi di lingkungan mereka. Misalnya:

·        IPA: mempelajari proses terjadinya erupsi dan dampak abu vulkanik.

·        Geografi: mengenali kawasan rawan bencana dan jalur evakuasi.

·        Bahasa Indonesia: menulis laporan atau artikel mengenai kondisi lingkungan.

·        Matematika: membaca dan mengolah data jumlah pengungsi atau jarak wilayah terdampak.

·        Pendidikan Pancasila: mempelajari gotong royong dan kepedulian terhadap korban bencana.

·        Kesenian: membuat poster atau infografis mengenai kesiapsiagaan menghadapi erupsi.

Dengan cara tersebut, pembelajaran tidak terasa terpisah dari kehidupan nyata. Bencana justru dapat menjadi sumber pembelajaran tentang bagaimana manusia memahami, menghadapi, dan bangkit dari situasi sulit.

Yang Terpenting Bukan Nilai, tetapi Keselamatan

Dalam kondisi normal, keberhasilan pembelajaran sering diukur melalui nilai, ujian, dan pencapaian akademik. Namun, ketika bencana terjadi, prioritasnya perlu berubah. Anak yang sedang berada di tempat pengungsian, misalnya, tentu tidak dapat diperlakukan sama dengan siswa yang sedang berada dalam kondisi normal.

Karena itu, pembelajaran pada masa bencana perlu lebih fleksibel. Kemendikdasmen menyebutkan bahwa asesmen dapat disesuaikan dengan kondisi peserta didik dan tidak semata-mata berorientasi pada tuntutan menuntaskan seluruh capaian pembelajaran. Pada akhirnya, anak yang aman, sehat, dan merasa didukung jauh lebih penting daripada sekadar menyelesaikan sebanyak mungkin tugas.

Dari Erupsi Kita Belajar Tentang Ketangguhan

Gunung yang meletus memang dapat menghentikan aktivitas sekolah untuk sementara. Tetapi, bukan berarti pendidikan harus ikut berhenti. PJJ menunjukkan bahwa proses belajar dapat beradaptasi dengan keadaan. Sekolah bisa berpindah ke rumah, tugas bisa disederhanakan, teknologi bisa dimanfaatkan, dan guru dapat tetap mendampingi siswa meskipun tidak berada dalam ruangan yang sama.

Lebih dari itu, pengalaman belajar di tengah bencana dapat menumbuhkan sesuatu yang tidak selalu ditemukan dalam buku pelajaran: ketangguhan, kepedulian, kemandirian, dan kesiapsiagaan.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang menyelesaikan materi. Pendidikan juga tentang mempersiapkan manusia agar mampu menghadapi kehidupan termasuk ketika alam menunjukkan kekuatannya. Gunung boleh meletus. Sekolah boleh sementara kosong. Tetapi semangat untuk belajar tidak harus padam.

Tidak ada komentar: