Bayangkan pagi yang biasanya dipenuhi suara bel sekolah tiba-tiba berubah menjadi suasana penuh kepanikan. Abu vulkanik mulai turun, udara menjadi tidak sehat, jalan-jalan harus dihindari, dan sekolah terpaksa ditutup demi keselamatan siswa serta guru.
Dalam
situasi seperti ini, pendidikan menghadapi tantangan besar: bagaimana
anak-anak tetap belajar ketika sekolah tidak lagi menjadi tempat yang aman
untuk didatangi? Salah satu jawabannya adalah Pembelajaran Jarak Jauh
(PJJ).
PJJ bukan sekadar memindahkan kegiatan
belajar dari ruang kelas ke layar ponsel atau komputer. Dalam kondisi bencana
seperti erupsi gunung berapi, PJJ menjadi bentuk adaptasi agar hak anak untuk
memperoleh pendidikan tetap terpenuhi tanpa mengorbankan keselamatan mereka.
Erupsi Gunung Berapi dan Terhentinya
Aktivitas Sekolah
Erupsi gunung berapi dapat membawa
berbagai dampak bagi kehidupan masyarakat. Abu vulkanik dapat mengganggu
kualitas udara, menghambat perjalanan, merusak fasilitas, bahkan membuat
beberapa wilayah harus dikosongkan sementara.
Kondisi tersebut tentu berpengaruh
langsung terhadap dunia pendidikan. Sekolah yang berada di kawasan terdampak
mungkin tidak dapat digunakan, sementara perjalanan menuju sekolah juga dapat
membahayakan siswa dan guru.
Pemerintah Indonesia sendiri telah
menegaskan bahwa dalam kondisi bencana, keselamatan peserta didik dan
pendidik harus menjadi prioritas, sementara pembelajaran tetap diupayakan
berlangsung melalui metode yang sesuai dengan kondisi lapangan.
Dalam kasus erupsi Gunung Anak Krakatau
pada September 2026, misalnya, Kemendikdasmen menyatakan bahwa wilayah dengan
kondisi udara yang cukup berat dapat menerapkan pembelajaran dari rumah atau
lokasi aman melalui PJJ.
PJJ: Kelas yang Berpindah ke Rumah
Ketika sekolah harus ditutup sementara,
rumah dapat berubah menjadi ruang kelas. Guru dapat memberikan materi melalui
video pembelajaran, pesan singkat, konferensi video, modul digital, atau tugas
yang dapat dikerjakan secara mandiri. Siswa pun tetap memiliki rutinitas
belajar meskipun tidak berada di lingkungan sekolah.
Namun, ada satu hal penting: PJJ
dalam situasi bencana tidak selalu berarti belajar menggunakan internet. Tidak
semua keluarga memiliki koneksi internet yang stabil, perangkat yang memadai,
atau listrik yang selalu tersedia. Karena itu, pembelajaran dapat dilakukan
dengan berbagai cara, seperti modul cetak, buku, tugas sederhana, radio, atau
komunikasi langsung dengan guru ketika kondisi memungkinkan. Pemerintah juga
menegaskan bahwa PJJ perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan
masing-masing daerah. Dengan kata lain, teknologi hanyalah alat. Yang
paling penting adalah memastikan anak tetap mendapatkan kesempatan untuk
belajar.
Tantangan Belajar di Tengah Abu Vulkanik
Meskipun PJJ menawarkan solusi,
pelaksanaannya tidak selalu mudah. Siswa yang berada di wilayah terdampak
bencana dapat menghadapi berbagai kesulitan. Konsentrasi belajar bisa menurun
karena mereka merasa cemas. Orang tua mungkin sibuk mengurus kebutuhan
keluarga. Bahkan akses terhadap internet, listrik, dan perangkat pembelajaran
bisa terganggu.
Di sinilah guru memiliki peran yang sangat
penting. Guru tidak hanya dituntut menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga
perlu memahami kondisi psikologis siswanya. Dalam situasi bencana, pembelajaran sebaiknya
tidak terlalu membebani anak dengan tugas yang berlebihan.
Kebijakan pendidikan dalam situasi bencana
juga mendorong pendekatan yang lebih fleksibel, termasuk penyesuaian materi
pada hal-hal esensial seperti keselamatan diri, mitigasi bencana, literasi,
numerasi, serta dukungan psikososial.
Belajar Sekaligus Mengenal Bencana
Menariknya, erupsi gunung berapi juga
dapat menjadi kesempatan untuk memberikan pembelajaran yang lebih kontekstual. Daripada
hanya membaca teori tentang gunung berapi dari buku, siswa dapat mempelajari
bencana yang sedang terjadi di lingkungan mereka. Misalnya:
·
IPA: mempelajari proses terjadinya erupsi dan
dampak abu vulkanik.
·
Geografi: mengenali kawasan rawan bencana dan
jalur evakuasi.
·
Bahasa Indonesia: menulis
laporan atau artikel mengenai kondisi lingkungan.
·
Matematika: membaca
dan mengolah data jumlah pengungsi atau jarak wilayah terdampak.
·
Pendidikan Pancasila: mempelajari
gotong royong dan kepedulian terhadap korban bencana.
·
Kesenian: membuat
poster atau infografis mengenai kesiapsiagaan menghadapi erupsi.
Dengan cara tersebut, pembelajaran tidak
terasa terpisah dari kehidupan nyata. Bencana justru dapat menjadi sumber
pembelajaran tentang bagaimana manusia memahami, menghadapi, dan bangkit dari
situasi sulit.
Yang Terpenting Bukan Nilai, tetapi
Keselamatan
Dalam kondisi normal, keberhasilan
pembelajaran sering diukur melalui nilai, ujian, dan pencapaian akademik.
Namun, ketika bencana terjadi, prioritasnya perlu berubah. Anak yang sedang
berada di tempat pengungsian, misalnya, tentu tidak dapat diperlakukan sama
dengan siswa yang sedang berada dalam kondisi normal.
Karena itu, pembelajaran pada masa bencana
perlu lebih fleksibel. Kemendikdasmen menyebutkan bahwa asesmen dapat
disesuaikan dengan kondisi peserta didik dan tidak semata-mata berorientasi
pada tuntutan menuntaskan seluruh capaian pembelajaran. Pada akhirnya, anak
yang aman, sehat, dan merasa didukung jauh lebih penting daripada sekadar
menyelesaikan sebanyak mungkin tugas.
Dari Erupsi Kita Belajar Tentang
Ketangguhan
Gunung yang meletus memang dapat
menghentikan aktivitas sekolah untuk sementara. Tetapi, bukan berarti
pendidikan harus ikut berhenti. PJJ menunjukkan bahwa proses belajar dapat
beradaptasi dengan keadaan. Sekolah bisa berpindah ke rumah, tugas bisa
disederhanakan, teknologi bisa dimanfaatkan, dan guru dapat tetap mendampingi
siswa meskipun tidak berada dalam ruangan yang sama.
Lebih dari itu, pengalaman belajar di
tengah bencana dapat menumbuhkan sesuatu yang tidak selalu ditemukan dalam buku
pelajaran: ketangguhan, kepedulian, kemandirian, dan kesiapsiagaan.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan
hanya tentang menyelesaikan materi. Pendidikan juga tentang mempersiapkan
manusia agar mampu menghadapi kehidupan termasuk ketika alam menunjukkan
kekuatannya. Gunung boleh meletus. Sekolah boleh sementara kosong. Tetapi
semangat untuk belajar tidak harus padam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar