Persaingan yang Semakin Sengit
Perkembangan pasar modern di Indonesia,
khususnya di wilayah Jabodetabek yang meliputi Jakarta, Bogor, Depok,
Tangerang, dan Bekasi, mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Kehadiran
supermarket dan hipermarket menawarkan pengalaman berbelanja yang berbeda
dibandingkan pasar tradisional. Harga yang kompetitif, tempat yang nyaman,
pilihan barang yang beragam, hingga kemudahan pembayaran menjadi daya tarik
utama bagi konsumen.
Pertumbuhan tersebut terlihat jelas pada
periode 1999–2004. Pangsa pasar supermarket terhadap keseluruhan industri
makanan meningkat secara tajam, dari sekitar 11% menjadi 30%. Pada periode yang
sama, penjualan supermarket tumbuh rata-rata 15% setiap tahun, sedangkan
penjualan pedagang tradisional justru mengalami penurunan sekitar 2% per tahun.
Perkembangan pasar modern diperkirakan
terus meningkat. PricewaterhouseCoopers pada 2005 memprediksi penjualan
supermarket akan meningkat sekitar 50% pada periode 2004–2007, sementara
penjualan hipermarket diperkirakan meningkat hingga 70%. Pertumbuhan tersebut
tidak dapat dilepaskan dari proses urbanisasi dan meningkatnya pendapatan
masyarakat perkotaan.
Pertumbuhan hipermarket juga menunjukkan
kecenderungan yang sama. Pada 1998–2003, jumlah hipermarket di Indonesia tumbuh
rata-rata 27% per tahun, dari hanya delapan gerai menjadi 49 gerai. Menariknya,
sekitar 58% hipermarket tersebut terkonsentrasi di wilayah Jabodetabek.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar
modern bukan lagi sekadar alternatif tempat berbelanja, tetapi telah menjadi
salah satu kekuatan penting dalam sistem perdagangan eceran Indonesia.
Mengapa Pasar Modern Lebih Menarik bagi
Konsumen?
Salah satu kelompok yang paling merasakan
dampak perkembangan pasar modern adalah pedagang tradisional yang menjual
produk yang sama dengan supermarket atau hipermarket. Persaingan menjadi
semakin berat ketika konsumen memiliki pilihan untuk membeli barang dengan
harga yang relatif lebih murah dalam tempat yang lebih nyaman.
Supermarket dan hipermarket memiliki
sejumlah keunggulan. Mereka dapat bekerja sama dengan pemasok besar dalam
jangka panjang sehingga memperoleh barang dengan harga yang lebih kompetitif.
Volume pembelian yang besar juga memungkinkan mereka memperoleh efisiensi
melalui economies of scale.
Selain harga, kenyamanan menjadi faktor
penting. Konsumen dapat menemukan berbagai jenis barang dalam satu tempat,
memperoleh fasilitas parkir, menikmati ruangan yang lebih bersih dan nyaman,
serta menggunakan berbagai metode pembayaran.
Persaingan tersebut kemudian diperkuat
melalui berbagai strategi pemasaran. Berdasarkan penelitian SMERU, supermarket
menggunakan strategi harga seperti pembatasan harga, predatory pricing,
dan diskriminasi harga antarwaktu (inter-temporal price discrimination).
Contohnya adalah pemberian diskon pada akhir pekan atau pada waktu tertentu.
Strategi nonharga juga tidak kalah
penting. Iklan, jam operasional yang lebih panjang, bundling atau tying,
serta fasilitas parkir gratis menjadi bagian dari upaya menarik dan
mempertahankan konsumen.
Dengan demikian, kekuatan pasar modern
tidak hanya terletak pada harga, tetapi juga pada kemampuan mereka menciptakan
pengalaman berbelanja yang dianggap lebih praktis dan nyaman.
Pasar Tradisional: Bukan Sekadar Tempat
Berjualan
Di tengah perkembangan pasar modern, pasar
tradisional menghadapi berbagai persoalan internal. Persoalan tersebut bahkan
sering kali menjadi alasan mengapa pasar tradisional semakin sulit bersaing.
Masalah infrastruktur masih menjadi
persoalan utama. Banyak pasar tradisional memiliki bangunan bertingkat yang
kurang diminati pembeli, kebersihan yang tidak terjaga, tempat pembuangan
sampah yang buruk, keterbatasan lahan parkir, serta sirkulasi udara yang kurang
baik.
Persoalan lainnya adalah semakin banyaknya
pedagang kaki lima (PKL) di sekitar pasar. Kehadiran PKL dapat menimbulkan
persaingan tidak seimbang dengan pedagang yang berjualan di dalam pasar karena
pedagang di dalam harus membayar sewa dan retribusi, sementara PKL dapat
menawarkan barang yang sama dari luar pasar. Akibatnya, konsumen bahkan tidak
perlu masuk ke dalam pasar untuk memperoleh barang yang mereka butuhkan.
Kondisi fisik sejumlah pasar tradisional
juga cukup memprihatinkan. Berdasarkan catatan PD Pasar Jaya yang dikutip dalam
bahan kajian tersebut, dari 151 pasar di Jakarta, hanya 27 pasar yang kondisi
fisik bangunannya masih baik. Sebagian besar lainnya mengalami kerusakan ringan
hingga berat.
Kondisi seperti ini tentu membuat pasar
tradisional semakin sulit bersaing dengan pasar modern yang menawarkan bangunan
bersih, tertata, nyaman, dan memiliki berbagai fasilitas pendukung.
Persoalannya Bukan Semata-Mata Kehadiran
Pasar Modern
Menariknya, kekalahan pasar tradisional
dalam persaingan tidak sepenuhnya disebabkan oleh keberadaan supermarket dan
hipermarket. Hasil penelitian yang dikaji menunjukkan bahwa faktor utama yang
menyebabkan pasar tradisional kalah bersaing justru berasal dari lemahnya
manajemen dan buruknya infrastruktur. Pasar modern memang memberikan tekanan
persaingan, tetapi tekanan tersebut menjadi semakin besar karena pasar
tradisional belum mampu memperbaiki kelemahan internalnya.
Karakteristik sebagian pedagang
tradisional juga menjadi tantangan tersendiri. Mereka menghadapi keterbatasan
akses permodalan, tidak memiliki skala ekonomi yang besar, tidak mempunyai
hubungan yang kuat dengan pemasok besar, memiliki sistem pengadaan yang kurang
baik, serta belum sepenuhnya mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan
konsumen.
Dengan kata lain, pasar tradisional
menghadapi persoalan ganda: tekanan dari luar dan kelemahan dari dalam. Karena
itu, kebijakan untuk mempertahankan pasar tradisional tidak cukup hanya dengan
membatasi pasar modern. Pembenahan terhadap pasar tradisional sendiri harus
menjadi bagian utama dari kebijakan tersebut.
Ketika Pasar Tradisional Berhasil Bertahan
Meskipun menghadapi berbagai persoalan,
pasar tradisional sebenarnya tidak selalu kalah dari pasar modern. Ada pasar
tradisional yang mampu bertahan bahkan ketika dikelilingi oleh sejumlah peritel
modern besar. Salah satu contohnya adalah pasar tradisional di kawasan
perumahan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang. Sejak dibuka pada Juli 2004,
pasar tersebut tetap ramai dikunjungi pelanggan meskipun berada di tengah
persaingan dengan sedikitnya lima peritel modern besar.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa
pasar tradisional masih memiliki daya tarik tersendiri apabila dikelola secara
baik. Pasar tradisional memiliki karakter yang sulit sepenuhnya digantikan oleh
pasar modern. Tawar-menawar harga, kedekatan antara pedagang dan pembeli, serta
suasana sosial yang lebih hidup merupakan bagian dari identitas pasar
tradisional.
Hubungan antara pedagang dan pembeli tidak
selalu sekadar hubungan ekonomi. Dalam banyak kasus, terdapat hubungan sosial
yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Konsumen datang bukan hanya karena
mencari barang, tetapi juga karena merasa mengenal pedagang dan memperoleh
pengalaman berbelanja yang lebih personal. Keunggulan tersebut merupakan modal
sosial yang sangat penting bagi keberlangsungan pasar tradisional.
Regulasi yang Belum Sepenuhnya Kuat
Pertumbuhan pasar modern juga memunculkan
persoalan dari sisi regulasi. Pemerintah menghadapi tantangan untuk menciptakan
keseimbangan antara kepentingan investasi dan persaingan usaha di satu sisi
dengan perlindungan terhadap pedagang kecil dan pasar tradisional di sisi lain.
Terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan
Republik Indonesia Nomor 53/M-DAG/PER/12/2008 pada saat itu memberikan harapan
terhadap adanya penataan pasar modern di perkotaan. Sebelumnya, pengaturan
mengenai penataan dan pembinaan pasar serta pertokoan antara lain bertumpu pada
kebijakan Menteri Perindustrian dan Perdagangan.
Di tingkat daerah, persoalannya menjadi
lebih kompleks. Otonomi daerah memberikan kewenangan yang luas kepada
pemerintah daerah dalam melakukan penataan kegiatan perdagangan. Namun, tidak
semua daerah memiliki regulasi yang secara khusus dan komprehensif mengatur
keberadaan pasar modern.
Bahkan ketika regulasi telah tersedia,
persoalan berikutnya adalah penegakan hukum. Aturan yang baik tidak akan
memberikan manfaat maksimal apabila tidak disertai pengawasan dan penegakan
yang konsisten. Karena itu, persoalan pasar tradisional sebenarnya bukan hanya
persoalan ekonomi, melainkan juga persoalan tata kelola dan kebijakan publik.
Mengapa Pasar Tradisional Perlu
Dipertahankan?
Pertanyaan pentingnya kemudian adalah:
mengapa pasar tradisional harus dipertahankan di tengah perkembangan pasar
modern? Jawabannya tidak semata-mata karena faktor nostalgia.
Pasar tradisional memiliki peran besar
dalam perekonomian masyarakat. Di dalamnya terdapat pedagang, pemasok, pekerja,
pembeli kulakan, pengangkut barang, hingga berbagai penyedia jasa lainnya.
Rantai ekonomi yang terbentuk dari aktivitas tersebut menciptakan lapangan
pekerjaan bagi jutaan orang.
Pasar tradisional juga menjadi salah satu
tempat utama berkembangnya usaha kecil dan menengah. Dalam konteks perekonomian
masyarakat, keberadaan pasar tradisional memberikan ruang bagi masyarakat untuk
menjalankan usaha dengan modal yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan
kebutuhan untuk memasuki sektor perdagangan modern.
Karena itu, ketika sebuah pasar
tradisional tutup, yang hilang bukan hanya bangunan pasar dan kios-kiosnya. Di
baliknya terdapat jaringan ekonomi yang jauh lebih luas. Pedagang dapat
kehilangan sumber pendapatan, pekerja dapat kehilangan pekerjaan, pemasok
kehilangan pembeli, dan keluarga yang bergantung pada aktivitas perdagangan
tersebut dapat mengalami penurunan kesejahteraan. Dengan demikian, pasar
tradisional dapat dipandang sebagai salah satu tulang punggung ekonomi
kerakyatan.
Menjaga Pasar Tradisional Bukan Berarti
Memusuhi Pasar Modern
Mempertahankan pasar tradisional tidak
berarti pemerintah harus mematikan atau menghambat perkembangan pasar modern.
Keduanya memiliki fungsi dan karakteristik yang berbeda serta dapat hidup
berdampingan apabila persaingan berlangsung secara sehat. Yang diperlukan
adalah menciptakan ekosistem perdagangan yang seimbang.
Pasar modern perlu diberikan ruang untuk
berkembang dan berinvestasi. Pada saat yang sama, pasar tradisional harus
diberikan kesempatan untuk melakukan pembenahan agar mampu bersaing secara
sehat.
Pemerintah dapat berperan melalui
perbaikan sarana dan prasarana pasar, penataan PKL, peningkatan kebersihan dan
keamanan, penguatan manajemen pengelolaan pasar, kemudahan akses pembiayaan
bagi pedagang, serta peningkatan kemampuan pedagang dalam memahami kebutuhan
konsumen.
Pasar tradisional juga perlu melakukan
transformasi. Modernisasi pasar tradisional tidak berarti menghilangkan
karakter tradisionalnya. Justru yang perlu dilakukan adalah menggabungkan
kenyamanan pasar modern dengan keunggulan sosial pasar tradisional.
Pasar yang bersih, aman, nyaman, tertata,
tetapi tetap memungkinkan tawar-menawar dan mempertahankan hubungan dekat
antara pedagang dan pembeli, dapat menjadi model pasar tradisional yang mampu
bersaing di masa depan.
Kesimpulan: Bersaing dengan Berbenah
Pertumbuhan pasar modern merupakan bagian
dari perkembangan ekonomi dan perubahan gaya hidup masyarakat. Supermarket dan
hipermarket memiliki keunggulan dalam harga, kenyamanan, kelengkapan produk,
sistem pembayaran, hubungan dengan pemasok, dan efisiensi skala ekonomi.
Namun, tekanan terhadap pasar tradisional
tidak semata-mata disebabkan oleh ekspansi pasar modern. Kelemahan
infrastruktur, manajemen yang kurang baik, keterbatasan modal, persoalan PKL,
serta kurangnya kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan konsumen
juga menjadi faktor penting.
Karena itu, solusi yang diperlukan bukan
sekadar membatasi pertumbuhan pasar modern, tetapi melakukan revitalisasi
menyeluruh terhadap pasar tradisional. Pasar tradisional harus dibangun menjadi
lebih bersih, nyaman, aman, dan tertata tanpa kehilangan identitasnya. Pedagang
juga perlu memperoleh dukungan permodalan, pelatihan, akses pemasok, serta
peningkatan kemampuan manajemen.
Pada akhirnya, masa depan pasar
tradisional bukan ditentukan oleh seberapa banyak pasar modern yang berdiri di
sekitarnya, tetapi oleh seberapa kuat pasar tradisional melakukan perubahan.
Pasar modern menawarkan kenyamanan,
sedangkan pasar tradisional memiliki kedekatan dan karakter. Tantangannya bukan
memilih salah satu dan mematikan yang lain, melainkan menciptakan persaingan
yang sehat sehingga keduanya dapat tumbuh bersama dan memberikan manfaat
sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar